Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Remaja Rentan Terhadap Pemikiran Bunuh Diri, Bagaimana Peran Guru BK?

Sumber: Pixabay.com
Sumber: Pixabay.com

Oleh : Wenny Syahnanda

Masa remaja merupakan masa yang paling rawan terjadi konflik. Pada masa ini individu mengalami banyak perubahan dan perkembangan baik fisik maupun psikis sehingga membutuhkan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Ditambah lagi perkembangan zaman termasuk perkembangan teknologi yang sangat pesat, menuntut remaja untuk dapat beradaptasi sehingga menyebabkan permasalahan yang dialami remaja semakin kompleks.

Sejalan dengan perubahan pada masa remaja, remaja memiliki tugas perkembangan yang harus diselesaikan. Individu yang tidak mampu memenuhi tugas perkembangan akan mengalami permasalahan yang berakibat pada munculnya pemikiran untuk bunuh diri yang berawal dari depresi dan muncul perasaan tidak berharga. Biasanya remaja yang beresiko memiliki ide bunuh diri adalah remaja yang mengalami ketidakharmonisan keluarga, orientasi negatif terhadap masa depan dan tekanan psikologis.

Dari data Menteri Kesehatan Indonesia, kelompok umur remaja hingga dewasa awal merupakan mayoritas pelaku bunuh diri. Pada masa ini rentan mengalami masalah pribadi, lingkungan sosial terkait penerimaan dalam dunia sosial, hak dan kewajiban yang dibebankan oleh orang tua. Ditambah lagi masa ini merupakan masa pencarian jati diri sehingga rentan salah arah dan terjerumus pada hal-hal yang merusak diri. World Health Organization (WHO) juga menyatakan bahwa bunuh diri menempati peringkat kedua tertinggi sebagai penyebab kematian pada kelompok usia 15 hingga 29 tahun. 

Ketidakmampuan individu bertahan pada kondisi dan perasaan yang dirasa amat berat memunculkan pemikiran untuk bunuh diri. Ditambah lagi jika individu tidak memiliki sandaran untuk menceritakan segala permasalahan yang dialaminya. Agaknya kurangnya pendampingan dari orang tua juga mempengaruhi keinginan bunuh diri. Dalam jurnal yang ditulis Afrina Zulaikha terkait Bunuh Diri pada Anak dan Remaja, perasaan kehilangan memiliki peranan penting sebagai faktor pencetus langsung bunuh diri pada remaja. Kehilangan disini dimaksudkan untuk kehilangan karena kematian atau perpisahan yang permanen seperti perceraian orang tua yang mengakibatkan kerenggangan atau hilangnya figur yang dicintai.

Dilansir dari jurnal yang ditulis Tinneke A Tololiu dkk, pada penelitian Rutter dan Behrendt dinyatakan bahwa ada 4 faktor psikososial yang merupakan faktor risiko terjadinya bunuh diri pada remaja. Faktor tersebut meliputi keputusasaan, permusuhan, dukungan social dan konsep diri yang negatif pada remaja. Tampaknya akhir-akhir ini tindakan pembullyan dan juga kekerasan yang dilakukan oleh orang tua juga dapat mencetuskan ide bunuh diri pada remaja. Mengingat dampak dari pembullyan dan juga kekerasan orang tua mempengaruhi kesehatan mental anak yang mengakibatkan depresi dan perasaan tidak berharga sehingga mencetuskan pemikiran untuk bunuh diri.

Gaya pengasuhan yang tidak tepat seperti memarahi secara berlebihan dan diberi hukuman fisik juga memberikan kontribusi terhadap munculnya pemikiran bunuh diri. Adanya kedekatan serta hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak tampaknya dapat menjadi tindakan pencegahan timbulnya ide bunuh diri pada remaja. Dengan adanya dukungan keluarga, remaja dapat berbagi permasalahannya sehingga terhindar dari stres dan juga perasaan kesepian yang dapat memunculkan ide bunuh diri.

Lalu Apa yang dapat dilakukan Guru BK terkait kasus bunuh diri pada remaja ?

Kehadiran Guru BK yang professional tentu memberikan angin segar bagi permasalahan yang dialami remaja. Mengingat remaja berada di sekolah dalam waktu yang cukup lama atau bahkan seharian berada disekolah, Guru BK dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk mengidentifikasi perilaku remaja yang beresiko adanya pemikiran ataupun tindakan bunuh diri. Selain itu, hendaknya guru BK dapat menjadi sandaran ketika siswa mengalami permasalahan serta melakukan pendampingan agar siswa tidak terjerumus pada tindakan bunuh diri.

Dalam upaya pencegahan, Guru BK dapat menjalankan salah satu program pencegahan bunuh diri berbasis sekolah yaitu General Suicide Education. Program ini dijalankan dengan berfokus pada pelatihan social skills, problem solving strategies, coping skills dan help seeking skills. Dalam jurnal yang ditulis Tinneke A Tololiu, menurut Dogan J dan Roggenbaum  General Suicide Education merupakan salah satu program pencegahan bunuh diri berbasis sekolah yang menggabungkan berbagai kegiatan yang mengembangkan harga diri dan kompetensi sosial.

Salah satu pengaplikasian program ini yaitu dengan memberikan latihan kemampuan diri dalam menghadapi stress sebagai coping skills yang perlu dimiliki oleh remaja. Coping with stress adalah cara dalam memanajemen stress untuk mempertahankan diri pada stimulasi yang sehat dan menyenangkan. Pada latihan manajemen stress ini ditunjukkan beberapa teknik dimana remaja diajarkan bahwa stress yang mereka hadapi dapat dikontrol. Remaja diajarkan untuk mengaplikasikan teknik tersebut dengan harapan dapat menolong mereka untuk berada pada tingkat stress yang rendah. Pelatihan manajemen stress dapat mengurangi resiko remaja mengalami depresi yang berujung pada pemikiran bahkan tindakan bunuh diri.

Dilansir dari laman hellosehat, coping skills dilakukan dengan mengenali permasalahan yang dihadapi dengan mengurangi stress terlebih dahulu, misalnya dengan mengalihkan perhatian dengan bersantai dsb. Dengan begini, kita dapat berpikir lebih jernih dan mampu mengatasi masalah dengan tepat. Penting bagi Guru BK memberikan pemahaman ini kepada siswa untuk mendorong siswa secara mandiri mampu menyelesaikan sendiri masalahnya sesuai dengan tujuan dari layanan BK yaitu memandirikan siswa.

Penerapan coping skills berbeda tiap individunya, namun para ahli psikologi secara umum membedakan caranya kedalam 2 kategori yaitu Emotion Focused Coping dan Problem Focused Coping. Strategi Emotion Focused Coping berfokus pada kondisi emosional seseorang seperti berduka, cemas dsb yang dilakukan dengan cara mengalihkan perhatian dari sumber masalah misalnya dengan curhat, rekreasi dsb. Namun strategi ini dapat membahayakan jika pengalihan perhatian dilakukan dengan cara yang tidak benar seperti penggunaan alkohol dan obat terlarang. Dan tentunya sudah menjadi tugas Guru BK untuk membimbing siswa terarah pada tindakan yang benar.

Problem Focused Coping dapat diterapkan apabila sumber stress berasal dari pekerjaan dan tekanan dalam mencapai target. Kepribadian yang optimis sangat diperlukan untuk menerapkan strategi ini karena dalam mengatasi masalah perlu keyakinan pada kemampuan diri untuk mengatasi masalah. Disamping itu Guru BK juga perlu memberikan cara untuk melatih coping skills diantaranya tetap berpikir positif, belajar dari kesalahan, menerima diri sendiri, mengkomunikasikan masalah dengan baik, serta objektif dalam memandang masalah.

Program-program tersebut akan berjalan efektif apabila di lakukan oleh Guru BK yang kompeten. Oleh karenanya perlu bagi seorang Guru BK melatih diri guna meningkatkan kompetensi. Tentu tidak mudah menjalankan tugas sebagai Guru BK profesional ditambah lagi kesalahpahaman masyarakat yang menganggap guru BK tidak memiliki andil apapun disekolah. Sangat tidak etis bukan jika merendahkan profesi orang lain. Yuk kenalan sama guru BK! 

*Penulis adalah Mahasiswi Prodi Bimbingan Konseling Islam, FITK-UINSU. Peserta KKN DR-26.


Sumber Lainnya:

Tinneke A Tololiu dkk.2012. Pengaruh Latihan Coping With Stress Terhadap Resiko Bunuh Diri pada Remaja di SMP Kasih Kota Depok . Poltekkes Kemenkes Manado : Jurnal Ilmiah Perawat Manado, Vol 1, No 1 ( https://ejurnal.poltekkes-manado.ac.id/index.php/juiperdo/article/view/133 )

Noor Rosyidah Kusuma Dewi.2019.Hubungan Parental Bonding dengan Ide bunuh Diri pada Remaja.Skripsi.Universitas Airlangga.

http://repository.unair.ac.id/93778/3/3.%20ABSTRAK.pdf 

https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/strategi-coping-skill-untuk-mengatasi-masalah/?amp 


12 comments for "Remaja Rentan Terhadap Pemikiran Bunuh Diri, Bagaimana Peran Guru BK?"

  1. Maasya allah bermanfaat sekali. Anak remaja wajib baca nih

    ReplyDelete
  2. Sangat relevan dengan keadaan saat ini.Dan ini sangat bermanfaat dan berpengaruh

    ReplyDelete
  3. Tulisannya cukup bagus dan bermanfaat.
    Namun ad yg perlu ditambahkan berkaitan "Dari data Menteri Kesehatan Indonesia,.... "

    ada baiknya dicantumkan data menteri kesehatan tahun berapa, umur remaja berapa, dan berapa persen data pelaku bunuh diri..

    Tetap semangat menulis.👍

    ReplyDelete
  4. Sanagat bermanfaat dan memotivasi

    ReplyDelete
  5. Sangat bermanfaat👍🏻👍🏻

    ReplyDelete