Kental Manis Bukan Susu untuk Anak: Pentingnya Edukasi Gizi Hingga ke Masyarakat Akar Rumput

Bahaya Susu Kental Manis
Bahaya Susu Kental Manis

Di Indonesia, persoalan gizi anak selalu menjadi topik hangat. Setiap tahun kita mendengar kampanye tentang pentingnya memperhatikan asupan nutrisi sejak dini. Meski kampanye edukasi seputar gizi sudah sering digaungkan, faktanya masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa kental manis bukan susu untuk anak.

Padahal, secara faktual, kental manis bukanlah susu yang bisa mendukung tumbuh kembang balita. Produk ini sejatinya adalah minuman dengan kandungan gula yang sangat tinggi menjadikannya lebih dekat ke kategori pemanis daripada sumber gizi, bukan sumber protein dan kalsium utama seperti susu pertumbuhan.

Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang masih memberikan kental manis kepada mereka dengan asumsi sama sehatnya seperti susu. Padahal, hal ini bisa berdampak pada kesehatan jangka panjang anak, mulai dari risiko gigi berlubang, obesitas, hingga kekurangan gizi karena asupan nutrisi tidak seimbang.

Tapi mengapa kesalahpahaman ini masih bertahan kuat di masyarakat kita?

Mengapa Kental Manis Masih dianggap 'Susu'?

Mengapa Kental Manis Masih dianggap 'Susu'?
Kental Manis = Susu?

Jika ditelusuri, ada beberapa alasan mengapa kental manis masih dianggap sebagai "susu". Beberapa alasan, adalah:
  1. Harga lebih murah : Dibandingkan susu bubuk atau susu cair untuk balita, kental manis jelas jauh lebih terjangkau.
  2. Akses lebih mudah :  Hampir setiap warung atau kedai kecil menjual kental manis, dari kota hingga pelosok desa.
  3. Iklan dan kebiasaan lama : Selama bertahun-tahun, iklan kental manis, di televisi menempel kuat di ingatan, menampilkan anak-anak minum kental manis seolah itu sehat.
  4. Kurangnya edukasi gizi : Banyak orang tua yang tidak mendapat informasi memadai tentang perbedaan antara kental manis dan susu pertumbuhan.
Maka tidak heran, meski sudah ada imbauan resmi dari Kementrian Kesehatan, praktik pemberian kental manis kepada anak masih terus terjadi di lapangan.

Pentingnya Edukasi Gizi Sampai ke Grass Root

Edukasi gizi bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan saja, tetapi juga perlu melibatkan banyak pihak. Di sinilah pentingnya edukasi gizi yang tidak hanya berhenti di level nasional atau kota besar, melainkan benar-benar menyentuh Grass root. Mulai dari:
  • Posyandu: Bisa menjadi garda depan karena menjadi tempat utama para ibu memantau tumbuh kembang balita.
  • Organisasi masyarakat dan komunitas: Dapat berperan menyebarkan informasi secara lebih dekat, dengan pendekatan budaya dan bahasa lokal.
  • Mahasiswa dan forum warga: Bisa menjadi agen perubahan dengan membuat program penyuluhan gizi yang sederhana namun tepat sasaran.
Masyarakat di tingkat grass root sering kali lebih percaya pada sosialisasi langsung daripada hanya sekadar membaca brosur atau iklan. Oleh karena itu, kegiatan tatap muka seperti penyuluh posyandu, forum diskusi, atau bahkan edukasi di arisan warga bisa menjadi cara efektif agar pesan "kental menis bukan susu untuk anak" lebih mudah dipahami.

Peran Media Terhadap Isu Susu Kental Manis

Kumpulan Informasi "Susu Kental Manis" di Berbagai Platform Medsos

Faktanya, informasi mengenai susu kental manis sebenarnya bukan lagi hal yang sulit ditemukan. Jika kita menelusuri berbagai platform media digital, seperti blog kesehatan, website resmi lembaga pemerintah, hingga media sosial seperti Instagram, youtube, dan tiktok. Edukasi soal kandungan gula tinggi dalam SKM dan bahayanya jika dikonsumsi oleh anak-anak, bisa dengan muda ditemukan.

Namun, tantangan utamanya bukan pada ketersediaan informasi, melainkan pada konsistensi dan frekuensi penyampaiannya di ruang publik. Meskipun kontennya sudah ada, pesan ini masih tenggelam di tengah banjir informasi lain di media sosial.

Nyatanya, edukasi soal SKM perlu di ulang, digaungkan, dan diangkat terus-menerus agar benar-benar melekat di benak masyarakat secara meluas, terutama bagi mereka yang tidak aktif untuk mencari informasi sendiri.

Selain itu, perlu ada strategi komunikasi yang mampu menjangkau masyarakat akar rumput. Informasi yang disampaikan harus relevan, mudah dipahami, dan hadir di kanal-kanal yang memang digunakan oleh target masyarakat tersebut. Misalnya, melalui video pendek di Tiktok atau reels Instagram dengan bahasa yang ringan, atau lewat kolaborasi dengan figur publik yang dipercaya.

Dengan kata lain, media berperan penting bukan hanya sebagai penyedia informasi saja, tetapi juga sebagai penggerak perubahan persepsi dan kebiasaan. Karena selama masyarakat masih menganggap SKM sebagai "susu", maka edukasi gizi belum benar-benar berhasil menembus lapisan terbawah masyarakat.

Peran Penting Kader Kesehatan

Kader kesehatan di lapangan adalah garda terdepan. Mereka yang berhubungan langsung dengan masyarakat, mendata balita, serta memantau tumbuh kembang anak. Karena itu, penguatan literasi gizi pada kader kesehatan sangat penting.

Jika kader mmiliki pemahaman yang tepat, mereka bisa memberikan edukasi langsung kepada ibu-ibu di posyandu. Dengan begitu, misinformasi tentang kental manis bisa diminimalisir, dan orang tua dapat memilih asupan yang benar untuk anak-anak mereka.

Potret Konsumsi Kental Manis dari Lingkungan dan Orang Terdekat

Rasanya tidak perlu jauh-jauh, orang terdekat saya sempat mengkonsumsi susu kental manis secara rutin setiap hari, sebelum mengetahui bahwa ternyata susu kental manis bukan susu.

Setelah mendengar ceritanya saat mengkonsumsi kental manis. disitu saya paham dan mulai menarik lintas ke belakang, perbedaan tubuh dan kulit yang sangat jauh terbalik.

Beberapa area tubuhnya dibagian kulit sedikit menghitam, memakai baju putih rasanya cukup memuakkan, karena akan cepat sekali kotor. Dibalik itu, dia menyadari, bahwa ia mengkonsumsi 'gula' terlalu banyak, segala minuman manis selalu dihantam, termasuk susu kental manis yang rasanya tidak lengkap jika tidak dihidangkan.

Namun saat adanya isu seputar kata 'susu kental manis bukanlah susu', 'obesitas' dan semacamnya. Ia benar-benar memperhatikan segala yang akan ia konsumsi. Bahkan melihat komposisi dan informasi nilai gizi di setiap kemasan apapun yang ingin ia beli.

Dan kini, bukan cuma memperhatikan makanan dan minuman yang akan dikonsumsi, tapi juga melakukan olahraga, yang kini rasanya tubuhnya jadi jauh berbeda dengan dulu.

Di sisi lainnya, banyak keluarga masih menganggapnya sebagai minuman pengganti susu karena harga yang lebih murah dan ketersediaannya yang luas. 

Karena di lingkungan yang juga mendukung dan di beberapa keluarga sudah menjadi tradisi. Bahkan, hampir setiap toko kelontong menyediakan kental manis dalam berbagai merek dan ukuran, dengan alasan yang sama, hanya karena harganya yang cukup murah dan terjangkau, bahkan di minimarket pun orang bisa tergiur dengan promonya.

Fenomena ini membuat saya berpikir, "betapa kuatnya kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi". Menunjukkan bahwa meski sudah ada edukasi dari pemerintah maupun lembaga kesehatan, literasi gizi di masyarakat masih perlu diperkuat. Ibaratnya, edukasi sudah ada, tapi perilaku masyarakat sering lebih dipengaruhi oleh tradisi, iklan lama, atau sekadar faktor ekonomi.

Tantangan Edukasi, Antara Pengetahuan dan Perilaku

Salah satu tantangan terbesar adalah jarak antara pengetahuan dan perilaku. Banyak orang tua sebenarnya sudah tahu bahwa kental manis bukan susu, tapi tetap memberikannya karena alasan praktis.
  • Anak suka karena rasanya yang manis
  • Harganya jauh lebih mudah dan sangat mudah ditemukan.
  • atau Sekadar karena sudah terbiasa sejak dulu.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa edukasi gizi tidak cukup hanya dengan menyampaikan fakta, tetapi juga harus menyentuh aspek perilaku dan kebiasaan.

Dibutuhkan pendekatan yang lebih personal, menyentuh hati, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sebuah Harapan Melalui Gerakan Bersama untuk Generasi Sehat

Mengubah kebiasaan memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil. Saya percaya jika edukasi gizi dilakukan secara konsisten, sederhana, dan menyentuh lapisan masyarakat bawah, maka lambat laun akan ada perubahan.

Pesan yang perlu digaungkan:
  • Kental manis bukan susu untuk anak
  • Anak membutuhkan asupan protein, kalsium, dan gizi seimbang dari sumber yang tepat.
  • Edukasi gizi adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau tenaga kesehatan.
Sebagai masyarakat, kita pun bisa ikut berperan. Minimal dengan menyampaikan informasi ini kepada keluarga, teman, atau tetangga yang mungkin masih salah kaprah. Karena hika tidak dimulai dari hal kecil, misinformasi akan terus bertahan.

Penutup

Sebagai peutup atau kesimpulan dari artikel ini, melihat kondisi di tenpat yang saya tinggali, saya semakin yakin bahwa isu kental manis bukan susu untuk anak masih jauh dari kata selesai. Tapi justru di situlah tantangan sekaligus peluang.

Jika edukasi gizi bisa diperkuat sampai ke grass root, jika kader kesehatan dibekali literasi yang lebih baik, dan jika masyarakat seling mengingatkan, maka sedikit demi sedikit kita bisa membangun kesadaran baru.

Bukan hanya untuk melindungi anak-anak hari ini, tapi juga untuk menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat di masa depan.

Posting Komentar untuk "Kental Manis Bukan Susu untuk Anak: Pentingnya Edukasi Gizi Hingga ke Masyarakat Akar Rumput"