Pertama kali Solo Travelling Seharian Langsung Keliling 5 Wisata Sabang

Backpacker ke Sabang
Pengalaman Solo Travelling ke Sabang

Seharian keliling Sabang, kira - kira bisa main ke wisata mana saja ya? Yuk baca artikel ini sampai akhir jika kamu penasaran dalam waktu sehari saja bisa menghabiskan waktu untuk keliling Sabang.

Sabang adalah salah satu destinasi wisata yang selalu menarik perhatian dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Sabang adalah pulau kecil yang terletak di bagian paling barat Indonesia. Kota Sabang dikenal dengan adanya tugu kilometer 0 dan juga pemandangan lautnya yang jernih nan biru.

Setelah sekian lama, akhirnya saya menginjakkan kaki juga di Sabang. Karena sebelumnya terlalu banyak rencana dan sempat gagal terus menerus ke Sabang ini. Beberapa ajakan pun sempat ter-iya-kan, tapi tak juga terlaksanakan.

Perjalanan menuju Sabang, memiliki cerita versi sendiri bagi saya. Dan tidak sabar ingin saya bagikan di artikel ini. Saya tertarik ingin membagikan pengalaman saya bermain di Sabang selama seharian penuh.

Sama seperti judul dari artikel ini, seharian main ke Kota Sabang. Yang ada di pikiran saya mengenai Pulau Sabang ini tidak begitu luas, hampir mirip dengan Pulau Salah Nama atau Pulau Salah Pandang yang berada di Sumatera Utara. Sebuah pulau yang sebelumnya pernah saya kunjungi dan pernah saya tulis juga di blog ini.

Ternyata saya salah, disaat saya sampai ke Pelabuhan Penyeberangan Balohan yakni Pelabuhan yang ada di Sabang. Sudah terlihat dari sisi ke sisi kalau ternyata Pulau Sabang ini begitu luas sekali.

Mata saya tidak bisa berhenti terpana sembari mengucap syukur melihat air yang biru dan pepohonan hijau yang hidup dipengunungan.

Oh iya, ada alasan tersendiri kenapa saya menamakan ini adalah perjalanan yang singkat yaitu seharian di Sabang.

Karena saya menantang diri sendiri apakah bisa, hanya satu hari di Sabang tapi bisa keliling semua wisata yang ada di Sabang? Jawabannya adalah Bisa, dan saya telah buktikan. Tantangan/ Chalange yang menarik tidak ya untuk diri sendiri? hehe

Dan, kira - kira cuma satu hari di Sabang bisa keliling mana saja ya? Yukk baca terus cerita saya sampai akhir ya. Oh iya, ini adalah kali pertama saya perjalanan jauh seorang diri ya.

Perjalanan Menuju Sabang

Perjalanan menuju Sabang saya lakukan dengan seorang diri, dan berangkat dari Kota Kisaran, Asahan, Sumatera Utara dengan menaiki sebuah bus rombongan menuju ke Pelabuhan Ulee Lheue.

Mendengar adanya suatu komunitas yang berdiri di Kota Asahan ingin pergi ke Sabang, saya tertarik untuk ikut nebeng dengan mereka. Ini saya lakukan karena ingin menghemat biaya.

Apalagi bus yang langsung menuju ke lokasi dari daerah saya juga tidak ada. Jika saya tidak ikut nebeng dengan bus ini, mungkin rute yang akan saya jalani akan lebih cape dan biaya yang di keluarkan juga cukup banyak. Bisa jadi dua kali dari ongkos ikut dengan komunitas. Pokoknya biaya perjalanan saya sudah saya rangkum di bawah ini.

Untuk keberangkatan, saya pergi pada hari Jumat pagi pada pukul 08.00 WIB dan sampai di Pelabuhan Ulee Lheu pada ke-esokan harinya pada hari sabtu pagi tepat pukul 07.40.

Ya kurang lebih satu hari satu malam perjalanan dari daerah saya menuju pelabuhan di Banda Aceh ini.

Pada saat sampai pun, kami hanya memiliki sisa waktu 20 menit untuk membeli sebuah tiket dan menaiki kapal. Karena weekend dan waktu menunjukkan keberangkatan maka antrian pembelian tiket cukup panjang dan padat sekali.

Mungkin ini salah satu penyebab dan alasan mengapa orang - orang menghindari pergi saat hari libur tiba. Dan ada baiknya jika ingin pergi liburan ke Sabang untuk hindari pergi di hari libur dan pemesanan tiket secara mendesak.

Untuk tiket penyeberangan dari Pelabuhan Ulee Lheue menuju Pelabuhan Balohan menempuh waktu kurang lebih selama dua jam.

Oh iya, untuk keberangkatan kapal beserta jadwalnya akan aku tuliskan khusus dan secara rinci di bawah ini.

Untuk keberangkatan kapal pada pagi hari, itu tepat pukul 8 WIB. Eits, pastikan kalau kamu tidak akan terlambat ya, karena sedikit saja kamu terlambat maka akan tertinggal oleh kapal dan harus mengikuti jadwal kapal selanjutnya.

Di dalam kapal juga tersedia banyak kursi yang cukup untuk kamu duduki. Jika terlalu banyak pengunjung, biasanya lebih memilih untuk duduk di lantai atau berdiri di pinggir kapal sembari menyaksikan luasnya laut Indonesia ini.

Jika kamu seorang konten kreator, kamu dapat mengambil beberapa spot gambar menarik seperti foto atau vidio di outdoor. Karena, pada saat pergi biasanya rasa penasaran dan gembiranya hati lebih full sebelum pada waktu pulang. Jadi, kamu bisa mengambil sebanyak banyaknya gambar yang ada di outdoor.

Oh iya, di dalam kapal juga terdapat kelas ekonomi dan eksekutif ya, perbedaannya terletak pada pelayanan, kursi tempat duduk, kamar mandi bahkan hingga kantin. Jika kamu takut tidak mendapatkan tempat duduk, kamu bisa banget untuk memesan tiket eksekutif loh.

Untuk yang eksekutif, walaupun kamu pergi di hari libur tetap akan ada kursi kosong tanpa perlu berebut kursi seperti di ekonomi.

Sesampainya di Pelabuhan Balohan, saya memesan travel mobil. Ini kembali kepada kamu lagi ingin travelling versi apa dan bagaimana.

Saya tertarik memesan travel mobil karena mempermudah barang bawaan, sekaligus dapat menjadi tourguide juga kan, mengetahui jalan dan mempermudah mencapai ke titik - titik tujuan, dan sebagai salah satu tujuan saya agar dapat mengenali sedikit cerita Kota Sabang dari penduduk aslinya.

Jika kamu bertanya apa saja yang saya dapatkan dari hasil diskusi dengan orang travel, kurang lebih saya bertanya seputar wisata, kuliner, agama dan suku tempat penduduk, dan banyak hal lainnya. Dari perjalanan ini juga banyak membuka mata saya lebar - lebar dan mendapatkan hal baru.

Oh iya, jika sedari pagi kamu belum ada sarapan, kamu bisa banget kok sarapan di Pelabuhan. Entah itu Pelabuhan Ulee Lheue atau Pelabuhan Balohan. Tak heran banyak juga para pedang yang menggendong barang dagangannya yang berisi minuman dan makanan.

Jika telah sampai di Pelabuhan Balohan banyak sekali kendaraan yang berjejer dengan rapi mulai dari sepeda, motor, becak, bahkan hingga mobil. Tak dipungkiri, sebagian besar adalah jasa travel yang disewa untuk wisatawan.

Saya juga mendapatkan informasi bahwa ternyata kendaraan berupa bis yang berukuran besar tidak diperkenankan untuk melintasi daerah sini, lebih tepatnya sih tidak diberi izin. Mungkin karena jalur perlintasan di Pulau Weh ini tidak begitu lebar.

Kalau di tanya soal penduduk sini, selama saya bertemu dengan banyaknya orang, hampir seluruhnya ramah sekali, apalagi ketika saya memulai diskusi dengan bahasa Aceh pula. Setidaknya perjalanan seorang diri kali ini tidak memperibet diri sendiri karena terhalang bahasa, tapi meskipun saya tidak memahami, tingkat ingin tahu saya begitu tinggi sekali, jadi tidak ada salahnya juga untuk belajar bahasa di daerah lainnya.

Oh iya, jika kamu penasaran setelah sampai di Pelabuhan Balohan destinasi wisata apa yang pertama kali saya kunjungi ceritanya telah saya tuliskan dibawah ini. Selamat melanjutkan bacaanya kerabat ketela.

Seharian di Sabang Keliling 4 Destinasi Wisata

Jika kamu seorang traveller, aku yakin kamu sudah menulis list wisata yang wajib dikunjungi dan kuliner yang harus dicoba.

Saya memang sedikit berbeda, lebih menantang ke diri sendiri jika pergi sehari saja ke sabang maka bisa kemana saja?

Seperti judul yang tertulis diatas, seharian di Sabang keliling 4 Destinasi Wisata. Dan berikut destinasi wisata dan kuliner yang telah saya coba.

1. Monumen Kilometer 0 Sabang Indonesia

Destinasi Sabang selain lautnya yang biru, tempat tujuan utamanya adalah Monumen Kilometer 0 Sabang Indonesia.

Yup, rasanya memang tidak lengkap kalau sudah sampai di Sabang tetapi tidak singgah ke Kilometer 0 Indonesia. Ibaratnya kamu sudah main ke Sabang, tapi belum ke Kilometer 0-nya berarti artinya kamu belum fix ke Sabang, ini kiasan hanya bercanda ya.

Tapi ini serius, apalagi mendapatkan sertifikat secara GRATIS. Btw, sertifikat di Kilometer 0 ini juga ada yang di perjual belikan ya, hanya mengeluarkan uang senilai sepuluh ribu saja kita sudah mendapatkan sertifikat Kilometer 0 Indonesia.

Yang kamu harus tahu, di Kilometer 0 ini, kita juga dapat melihat luasnya laut Indonesia yang biru banget. When, saya merasakan hal yang sangat damai banget, benar - benar tempat yang cocok untuk healing menurut saya.

Disini kita juga dapat membeli oleh - oleh berupa souvenir, karena terdapat pusat pembelanjaan disamping kanan kiri menuju tugu kilometer 0 Indonesia. Selain itu, tentu saja ada kuliner khas Aceh yang tersedia disini.

Tak perlu jauh - jauh mencari tempat beribadah, karena disini ada menyediakan Musholla untuk sejenak beribadah.

Oh iya, ada hal yang sedikit lucu menurut saya. Disaat saya ingin menuju arah pulang dari Kilometer 0 Indonesia, ada sepasang ibu dan bapak ingin membeli baju untuk cucunya. Namun, sepertinya mereka berasal dari Pulau Jawa terlihat dari medoknya pembicaraan mereka. Disatu sisi, sang pembeli tidak bisa berbahasa Indonesia, sedang disatu sisi lagi Sang penjual tidak mengerti bahasa Jawa.

Yang saya maksud lucu disini adalah, gerakan refleks atau spontan dari sang penjual, kalau diperhatikan wajahnya lucu karena ia tidak mengerti. Saya bukan menertawakan, apalagi yang kita tahu Indonesia dikenal dengan budaya dan bahasanya yang berbeda beda.

Akhirnya, saya menyamperi penjual dan pembeli itu dan mencoba untuk menerjemahkan apa yang mereka maksud. Seketika saya merasa beruntung dilahirkan dari keluarga Jawa dan Aceh, Setidaknya, dalam perjalanan yang seperti ini, saya dapat membantu orang lain.

Oh iya, saya belum banyak bercerita soal tugu ini ya. Ternyata, hampir sulit sekali kita berfoto di monumen ini loh, apalagi disaat ramai - ramainya pengunjung.

Apalagi jika pergi sendiri, cukup susah agar dapat bergantian berfoto. Di tempat ini, saya juga tidak terlalu banyak mendokumentasikan gambar, cukup menjadi kenang - kenangan pertama bagi saya.

Oh iya, menurut saya, ada baiknya kamu menjadikan perjalanan ke Kilometer 0 Sabang ini pada pagi hari atau sore hari, asal jangan mal hari yaa. Karena pada pagi hari, cuaca belum panas banget, jika sudah siang maka akan terasa terik, sedangkan pada sore hari siap - siap dengan ramainya pengunjung. Tetapi, jangan mencoba untuk pergi pada malam hari, karena akan terasa sepi. Karena sepanjang jalan tidak terdapat lampu jalan.

Dan informasi dari driver saya, ia juga mengatakan batas waktu pengunjungan hanya sampai sore, jika sudah malam juga jarang sekali ada yang lewat bahkan hampir tidak ada. Karena minimnya penerangan jalan di area Sabang ini.

2. Pantai Iboih

Untuk Pertama kalinya saya melihat ikan kejar kejaran di pinggir pantai. Dan saya? seantusias itu dan sebahagia itu. Dimana pemandangan yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terlihat oleh saya.

Dulunya, saya selalu di bikin iri sama abang sendiri, karena ia telah keliling Sabang dan begitu puasnya bermain di pantai Iboih ini.

Oh iya, Pantai Iboih bersebrangan dengan Pulau Rubiah ya. Namun untuk trip kali ini, saya mengurungkan niat untuk menyebrang ke Pulau Rubiah, dikarenakan mengejar waktu.

Padahal, di Pulau Rubiah ini, ikan yang terlihat lebih banyak dan kita juga dapat berenang bersama banyaknya ikan loh.

Tapi, Pantai di Iboih memang memanjakan mata, karang - karang di pinggir pantai, pasir putih yang halus dan lembut, ikan - ikan berenang dan lautnya yang biru.

Pengen banget berenang di Pantai Iboih ini, airnya biru banget, betul - betul tidak bosan rasanya. Sepertinya kalau pagi - pagi keluar dan melamun di pinggir pantai seru juga, bakal dicoba next trip nih.

Oh iya, di pantai Iboih ini juga cukup ramai ya, tenang saja tidak seramai di pasar malam kok. Masih sewajarnya pengunjung.

3. Freddies Santai SumurTiga

Sebetulnya ini adalah sebuah penginapan dan restoran, tapi serunya, tempat ini dibuka untuk umum!

Sehingga banyak pengunjung yang datang kemari untuk berswafoto ria hingga akhirnya Freddies menjadi salah satu spot menarik yang wajib dikunjungi oleh wisatawan.

Tapi emang Freddies memberikan pemandangan yang bagus banget. Wajib mengabadikan foto disini sebagai kenang - kenangan loh.

Oh iya, Freddies ini tepat berada di Pantai Sumur Tiga, letak lokasinya juga tidak jauh dari Freddies, kita bisa saja jalan dan sangat dekat sekali.

4. Benteng Jepang Anoi Itam Sabang

Benteng Anoi Itam merupakan salah satu letak wisata yang bersejarah. Karena konon, tempat ini adalah tempat pertahanan Jepang yang terletak di Ujong Kareung, dimana dulu sebagai tempat penyimpan berbagai jenis senjata bagi armada Jepang.

Beberapa bangunan yang dibangun memang cukup bertahan sampai sekarang. Namun sayangnya, terdapat beberapa coretan di bagian dinding - dinding yang di bangun.

Oh iya, pada Benteng Jepang ini masih terdapat Meriam yang sangat besar dan berat sekali. Bangunan dan meriam ini letaknya menuju ke arah laut, dengan guna untuk mencegah kapal musuh, memasuki perairan wilayah Sabang.

Lokasinya berkedakatan dengan Pantai Anoi Itam sehingga menjadikan Benteng Jepang ini dinamakan sebagai Benteng Anoi Itam.

Sebagai anak konten, rasanya duduk disini di sore hari memandang laut sangat mengasyikkan. Pemandangan yang sungguh luar biasa, ditambah lagi adanya karang - karang laut yang cukup tajam namun menambah aksen pemandangan ini.

Oh iya, sebelum naik ke ujung karang ini, di bawahnya terdapat warung, kita dapat menikmati minuman dan makanan sambil melihat pemandangan yang ada disini.

Karena saya baru pertama kalinya kemari, rasanya kalau bolak balik ke tempat ini masih belum bosan ya.

Tapi, Saya termasuk beruntung dan bersyukur dapat kesempatan main ke tempat ini walau hanya satu hari. Tetapi, sepertinya di tempat ini saya sedikit santai dan lumayan lama, mungkin karena pemandangannya juga oke.

5. Kota Sabang

Saat mengelilingi Kota Sabang, sejujurnya saya sedikit tertegun. Dan disatu sisi saya malah dejavu nih. Karena akhir tahun lalu baru saja melewati Kota Kabanjahe atau Karo. Maka saya rasa Kota Sabang ini hampir persis banget mirip dengan Kota Kabanjahe.

Apalagi vibes yang menuju dipinggir pantai, seasyik itu rasanya tinggal disini.Kotanya juga cukup luas, untuk mencari makanan juga tidak susah karena banyak penjual makanan di area ini.

Kota Sabang, cukup indah menurut saya, dan orang - orang di dalamnya juga cukup ramah.

Harga Tiket dan Jadwal Keberangkatan Kapal Sabang

Untuk kapal yang saya naiki adalah kapal ekonomi, atau yang disebut dengan kapal lambat. Seperti kata saya yang sebelumnya pada tulisan di atas. Saya akan menuliskan harga tiket dan jadwal keberangkatan kapal Sabang.

Dan berikut adalah catatan harga tiket terbaru dengan rute Pelabuhan Ulee Lheue menuju Pelabuhan Balohan.

A. Harga Tiket Ferry (Kapal Lambat) Sabang


TARIF TIKET KAPAL FERRY RUTE
ULEE LHEUE - BALOHAN
A PENUMPANG
01 Dewasa Rp. 35.000
02 Bayi Rp. 4.200
B KENDARAAN
01 Golongan I (Sepeda) Rp. 40.000
02 Golongan II (Sepeda Motor Bebek) Rp. 68.000
03 Golongan III (Sepeda Motor Sport) Rp. 145.000
04 Golongan IV
a. Kend. Penumpang (Mobil Penumpang)
b. Kend. Barang (Mobil Barang)

Rp. 457.000
Rp. 349.000
05 Golongan V
a. Kend. Penumpang (Penumpang)
b. Kend. Barang (Barang)

Rp. 985.000
Rp. 627.000
06 Golongan VI
a. Kend. Penumpang (Penumpang)
b. Kend. Barang (Barang)

Rp. 1.612.000
Rp. 934.000
07 Golongan VII Rp. 1. 289.000
08 Golongan VIII Rp. 1.704.000
09 Golongan IX Rp. 2.415.000

Harga tiket diatas adalah harga terbaru di Tahun 2023 untuk menaiki kapal lambat atau kapal ferry rute Ulee Lheueu menuju Balohan. Berikut adalah Jadwal Keberangkatan kapal ferry.

B. Jadwal Keberangkatan Ferry (Kapal Lambat) Sabang

Berikut adalah catatan waktu yang sempat saya lihat di pelabuhan. Ternyata untuk jadwal keberangkatan berbeda - beda. Silakan lihat jadwal dibawah ini, dan pastikan kamu tidak terlambat dan sesuai dengan jadwal kamu, agar tidak tertinggal kapal.

JADWAL KEBERANGKATAN FERRY (KAPAL LAMBAT)
RUTE ULEE LHEUE - BALOHAN
HARI JAM
Senin 08.00
11.00
15.30
Selasa 08.00
11.00
15.30
Rabu 08.00
11.00
15.30
Kamis 08.00
11.00
15.30
Jumat 07.30
10.30
15.30
Sabtu 08.00
11.00
15.30
Minggu 08.00
11.00
15.30
Note : Jadwal kapal dapat berubah sekwatu - waktu

Biaya Perjalanan Menuju Sabang

Untuk transportasi kebetulan saya mengikuti rombongan suatu komunitas yang ada di Asahan dengan akumulasi biaya bus dari Kota Kisaran menuju Pelabuhan Ulee Lheue senilai Rp. 300.000, biaya tersebut sudah termasuk untuk pulang dan pergi.

Berarti untuk sekali perginya dari Kota Kisaran menuju pelabuhan Sabang menaiki bus senilai Rp. 150.000.

Jika saya mengikuti rute yang seperti di bawah ini 

Kota Kisaran ke Medan versi naik bus

  • Biaya naik bus dari Kisaran menuju Medan = Rp. 40.000.
  • Waktu yang di tempuh sekitar = 4 - 5 jam.
  • Berhenti di terminal Medan dan menaiki ojek online menuju terminal bus Aceh, dari waktu terminal Medan menuju terminal bus Aceh = 15 Menit.
  • Biaya yang dikeluarkan dari terminal A menuju terminal B adalah Rp. 20.000 menaiki transportasi online.
  • Biaya bus dari Medan menuju Aceh = Rp. 170.000.
Total rincian biaya dari Kota Kisaran menuju Medan : Rp. 230.000 untuk sekali jalan dan tiba ke Banda Aceh dengan versi menaiki bus dari Kota Kisaran.

Untuk bus yang biasa saya naiki dari Kota Kisaran adalah bus rajawali, bus ini cukup besar dan lapang, memiliki AC, memiliki kursi yang nyaman dan mudah di temukan karena jadwal keberangkatan dari bus ini tersedia satu jam sekali keberangkatan.

Kota Kisaran ke Medan versi naik KA

Dan ini merupakan keberangkatan dari Kota Kisaran ke Medan versi naik Kereta Api.
  • Biaya naik KA dari Kisaran ke Medan menggunakan Kelas Ekonomi = Rp. 27.000.
  • Waktu yang akan di tempuh menggunakan kereta = 4 Jam 6 menit.
  • Dari Stasiun KA menuju terminal Bus Aceh = Rp. 20.000 dengan durasi waktu 15 menit.
  • Pemesanan Bus menuju Banda Aceh senilai = Rp. 170.000
Total rincian biaya dari Kota Kisaran menuju Medan : Rp. 217.000 untuk sekali jalan dan pemesanan tiket menuju Banda Aceh versi menaiki Kereta Api.

Jika ingin pergi ke Aceh, saya selalu menyusun jadwal dari Kisaran menuju Medan dengan keberangkatan pada siang hari menggunakan kelas Ekonomi,  Jika ingin naik kereta dengan kelas bisnis dan eksekutif maka akan berbeda lagi harganya.

Sampai di stasiun Medan pada sore hari dan langsung lanjut menuju Terminal Bus. Rute ini biasa saya lakukan jika ingin pulang ke kampung halaman.

Bus yang biasa saya naiki adalah bus Kurnia yang berada di Jalan. Gagak Hitam.

Ciri Khas Kota Sabang

Wait, maksud dari ciri khas Sabang ini bukan dari segi lautnya yang indah atau monumen kilometer 0-nya yang memikat. Tapi ada sisi lain yang ingin aku beri tahu.

Dan seperti yang kita tahu, bahwa di Aceh juga dikenal dengan rempah - rempahnya yang cukup banyak. Bahkan disetiap daerah pasti memilih ciri khasnya sendiri. Begitupula dengan Kota Sabang.

Di Sabang ini, juga dikenal dengan tumbuhan cengkehnya. Sering disebut dengan cengkih atau cengkeh, yakni kuncup bunga kering dari Pohon Myrtaceae dengan aromanya yang khas banget.

Cengkeh ini biasanya digunakan sebagai bumbu masakan atau pada minuman seperti bandrek. Rasa dari cengkeh ini juga memiliki rasa yang pedar dan pedas yang khas sekali.

Di Daerah Aceh, tumbuhan yang khas dan dikenal di daerah ini adalah tumbuhan cengkeh. Jadi, jika suatu hari kamu mengunjungi Daerah Sabang ini dan melihat ada warga yang menjemur sesuatu di pinggiran jalan, itu bisa jadi adalah cengkeh ya kerabat ketela.

Kuliner Khas Sabang

Ini sih yang paling dicari, Rasanya memang rugi banget ya sudah jauh - jauh main ke Sabang tapi kita sampai lupa mencicipi kuliner khas Kota Sabang ini.

Tau kah kamu kuliner khas Sabang itu apa?

Jawabannya adalah sate gurita. Iya, makanan khas Sabang yang wajib kamu coba adalah sate gurita.

Walaupun aku adalah salah satu orang yang merugi karena belum sempat mencicipi kuliner yang satu ini, karena harus mengejar waktu dan efek kelelahan seharian keliling Pulau Weh. Tapi saya yakin akan kembali ke tempat ini dan tidak akan melewatkan kuliner khas Kota Sabang.

Namun, selama di Sabang tentu saja saya ada menikmati kuliner di Sabang, salah satunya adalah rujak Aceh atau disebut dengan lincah Aceh.

Yang berbeda dari Lincah ini adalah adanya tambahan boh meuria (buah rumbia). Boh meuria ini dijuluki sebagai salak hutannya Aceh, berasal dari pepohonan sagu, rasanya kelat melekat pada dinding atas mulut, biasanya selain diolah dengan lincah, boh meuria juga lebih enak dimakan dengan pliek u (kelapa yang diolah).

Saat ini, boh meuria juga sudah sangat sulit didapatkan, tak heran jika harga dari buah ini semakin mahal, saat ini perkilonya bisa mencapai 70 ribu rupiah.

Jika pada umumnya di wilayah Aceh orang - orang membuat lincah menggunakan pisang muda, kalau di Sabang memakai buah rumbia ini. Alasannya agar rasa dari rujak tersebut ada sensasi kelat - kelatnya, dan inilah yang menjadi ciri khas Aceh pula.

Buat kamu yang ingin mencoba rujak Aceh ini, bisa banget kamu dapatkan di pusat pembelanjaan kolimeter 0 Sabang, Indonesia. Karena hanya satu orang saja loh yang berjualan lincah dengan campuran boh meuria ini.

Suatu hari nanti, saya akan kembali lagi ke tempat ini, wajib banget keliling Pulau Weh dan semua wisata yang ada disana. Karena emang ada beberapa wishlist yang belum kesampaian. Setidaknya, target saya kali ini telah berhasil, yakni keliling Sabang dalam Sehari.

Btw, buat kalian yang sudah pernah pergi ke Sabang, boleh banget dong ceritain di kolom komentar sudah pernah kemana saja, budgetingnya berapa, dan bagaimana nikmatnya kuliner khas Sabang ini.

Post a Comment for "Pertama kali Solo Travelling Seharian Langsung Keliling 5 Wisata Sabang"