Setiap Tulisan Akan Menemukan Pembacanya - Tulisan ku, Bukan selera mu

Tulisanku, Bukan Seleramu

Pernah mendengar ucapan atau tulisan, yang bunyinya seperti ini "Setiap tulisan memiliki pembacanya sendiri, jika kamu tidak menyukai tulisanku, berarti tulisan ku bukan selera mu" Entah salah atau benar, kurang lebih isinya begitu.

Setiap tulisan yang dinikmati oleh pembaca, terlihat menyenangkan. Dapat membuat mood menjadi lebih baik, dan memiliki semangat untuk menulis.

Respon baik seakan mendorong kita untuk terus produktif.

Tetapi, di setiap tulisan pasti ada saja yang tidak menyukai tulisan itu, mereka lah yang dapat disebut dengan "Tulisanku, bukan selera mu".

Kita tidak bisa memaksa setiap orang untuk menyukai tulisan kita. Mereka juga memiliki hak untuk membaca tulisan apapun, siapapun.

Ada tulisan yang sangat ringan dan ada juga yang berat. Ini juga kembali ke-selera bacaan kita lagi kan?

Berdasarkan pengalaman, terjun dengan nama pena yang cukup unik, membuat Pohon ketela berkembang hingga sekarang. Memahami mana tulisan yang cukup banyak di minati oleh pembaca, dan mana yang kurang di minati oleh pembaca.

Setiap penulis pasti juga memiliki ciri khas tersendiri, sehingga pembaca bisa mengenali dan mengingat ciri dari tulisan si penulis.

Di bawah ini, aku tertarik menuliskan pengalaman tentang perjalanan Pohon ketela mengenai selera pembaca.

Ruang 

Ruang untuk menulis

Pernah menulis cerita di platform menulis, seperti noveltoon, storial dan wattpad. Namun, aku memutuskan untuk menyimpan tulisan - tulisan novel dan cerpen yang pernah aku publish di platform menulis itu.

Alasan aku menyimpan tulisan ku di draft, karena ku tidak se-percaya diri itu, jika tulisan ku di baca oleh orang lain. Sebetulnya, aku sangat suka jika tulisan ku dibaca oleh orang yang tidak aku kenal dan tidak mengenal ku.

Tetapi, orang yang menganggap kita sebagai saingan, akan selalu membuntuti apapun kegiatan yang kita lakukan. Itulah alasan mengapa aku menyimpan ulang tulisan ku di draft pada sebuah platform menulis.

Mungkin terdengar cukup aneh. Tetapi, akan ada dimana kita risih untuk hal itu.

Pada tahun 2017, akhirnya Pohon Ketela menemukan sebuah ruang yang tepat untuk mempublikasikan kumpulan tulisan - tulisannya. Sebuah ruang yang hanya bisa menuliskan 280 karakter saja.

Iya, twitter menjadi tempat untuk Pohon Ketela bertumbuh.

Pohon Ketela bertumbuh di media itu, Sebelum mengenal apa itu "Blog, blogger dan wordpress" diantara platform menulis dan media lainnya hanya twitter media yang tepat untuk pohon ketela berbagi tulisan singkat.

Dengan membawa genre romance dan mental health di setiap isi twitter, akhirnya aku menemukan mana tulisan yang menjadi selera pembaca.

Sejak di hari itu, mutual twitter memberi aku sebuah jargon dengan "Penulis galau".

Tulisanku, Bukan Seleramu

Tulisan ku, Bukan Seleramu

"Tulisanmu kok galau melulu?"

Aku menganggap disetiap orang yang merespon tulisan ku, berarti aku berhasil membangun tulisan itu. Mungkin terdengar sepele, atau pemikiran aku yang salah untuk ini.

Dari kumpulan kutipan yang aku buat di twitter pohon ketela, akhirnya aku paham bahwa setiap tulisan akan menemukan pendengarnya sendiri.

Dan jika ada yang berkata "Apaan sih, tulisan kamu itu, bukan bacaan aku banget". Ya berarti, target pembaca aku bukan dia, selera tulisan ku bukan dia.

"Tulisan galau" yang tertulis, bukan berarti sedang kita rasakan. Aku yakin, banyak penulis Indonesia yang menulis bukan berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Ada tulisan yang tercipta karena ia menjadi pendengar. Ada tulisan tercipta karena ia melihat, dan ada tulisan karena ia membaca. 

Beberapa penulis, yang bukunya pernah terbit di gramedia. Yang namanya tidak asing terdengar di telinga, juga mulai mengikuti akun pohon ketela.

Disini aku berpikir, kalau aku berhasil mem-branding si pohon ketela dengan tulisan - tulisan galaunya ini.

Karena setahun terakhir aku banyak berteman dengan teman - teman blogger di twitter, akhirnya aku beralih ke akun instagram untuk meneruskan "ciri" yang orang kenal sebagai pohon ketela di twitter. Agar, pohon ketela yang pernah di kenal, tidak mati namanya.

Aku sengaja tidak meneruskan itu di twitter, aku takut mengganggu teman - teman blogger lainnya di twitter, sehingga aku memutuskan untuk beralih mempublikasikan tentang blog saja di twitter, kutipan tulisan yang tak jauh seputar blog.

Dengan beralihnya Pohon Ketela ke instagram, dengan adanya fitur reels, ini membantu untuk mengembangkan tulisan - tulisan yang sering dicap galau itu.

Beralih ke Instagram

2020 lalu, aku membuat sebuah rumah baru untuk pohon ketela, sebuah akun instagram. Dimana aku ingin  menambah relasi lebih banyak lagi. Mendengarkan cerita orang lain yang bisa aku dengarkan. Dan jika mereka berkenan, akan aku jadikan tulisan,

2020, Isi instagram Pohon Ketela masih random, ada campuran antara postingan kumpulan kutipan tulisan ada juga postingan tentang blog.

Pada pertengahan 2021, sejak kehadiran reels di instagram. Aku memanfaatkan fitur itu, dan menjadikan perbedaan antara postingan feed dan reels.

Untuk feeds aku memposting tulisan blog, sedang di reels, kumpulan kutipan tentang mental health dan tulisan galau telah kembali.
Insight Instagram


di reels, aku menemukan penikmat tulisan ku lebih banyak lagi. Yang bikin semangat, ketika melihat insight, postingan itu banyak di bagikan dan juga di simpan.

Beberapa, ada yang meminta izin untuk membagikan kumpulan tulisan itu untuk di bagikan ke media lainnya.

Dari sini aku paham, setiap tulisan punya penikmatnya sendiri, Setiap tulisan, akan menemukan pembacanya sendiri, dan Pembaca akan menemukan mana tulisan yang mereka sukai.

Disini, yang aku lakukan hanya terus saja menulis, dari dua genre yang aku geluti, akhirnya aku juga menemukan tulisan mana yang disukai oleh pembaca.

Dari sini, aku mendapatkan teman baru yang dikenal secara online. Dekat dengan teman online, saling sharing dan berbagi pengalaman.

Pada tulisan ini, aku bukan merasa tulisan yang aku sampaikan sudah sempurna dan bagus. Justru aku butuh belajar lebih banyak lagi.

Aku hanya ingin menyampaikan bahwa, setiap orang memiliki selera bacaannya tersendiri.

Sebagai penulis kita harus pandai memilah, tak perlu sakit hati, bisa jadi ucapan yang dianggap menjatuhkan sebetulnya membangun.

Tulisan Sepi Pembaca?

tulisan sepi pembaca


Apa sih penyebab dari tulisan sepi pembaca atau pengunjung?

Penyebab nya tentu saja ada, kenapa bisa tulisan kita menjadi sepi pembaca. Entah menuliskannya di media atau platform mana kamu menulis.

Dibalik itu, ada yang harus kita pahami. Apa alasan dari pengunjung tulisan kita sepi,
  • Upgrade / perbaiki tulisan : Jangan patah hati dulu kalau ada orang lain yang tidak menyukai tulisan mu. Mungkin ada yang harus di perbaiki untuk tulisan itu.
  • Membaca ulang tulisan : Hal ini sangat jarang di lakukan penulis, ini self reminder tapi membaca ulang tulisan itu adalah point penting.
  • Izinkan orang terdekat membacanya terlebih dahulu, agar mengetahui dimana letak kekurangan tulisan.
  • Bagikan / promosikan di Sosial Media
Ada lagi point yang ingin kamu tambahkan agar tulisan menemukan pembacanya? Silakan berikan jawabanmu melalui kolom komentar di bawah ya.

2 komentar untuk "Setiap Tulisan Akan Menemukan Pembacanya - Tulisan ku, Bukan selera mu"

Comment Author Avatar
Kalau saya.. Nulis aja.. Meskipun saya sendiri merasa jelek.. Gak ada yang baca jg tidak jd masalah.. Yang penting uneg2 sudah keluar.. Jd lega.. Hehehe
Comment Author Avatar
Love the idea. Sebaik dan seindah apapun sebuah tulisan, pasti akan ada orang yang tidak menyuaiknya. Sebaliknya, sejelek dan serandom apapun sebuah tulisan, pasti akan ada orang yangt menikmatinya. Tersenyum, tergelitik membacanya.

Terima kasih banyak untuk tulisan yang begitu menggugah dan menarik, Kak.