Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hobi Membaca Buku di Kereta, di Beri Bekal Ilmu Oleh Orang Lain

Desain by pinterest

Setiap orang, pasti mempunyai tempat favorit untuk membaca sebuah buku, dimana pun dia, kalau nyaman. Yaa pasti lanjut membaca.

Bagi saya sendiri, membaca itu asik. Hal yang paling saya suka itu adalah bertambahnya kosa kata yang baru. Selain itu ada hal - hal yang tidak pernah kita tahu, akan menjadi tahu, tentu saja menambah ilmu baru. Hal - hal yang sudah kita lupa, ketika kita mengulang membacanya maka kita akan mengingatnya.

Saya tertarik menuliskan ini, yaaa karena menurut sebagian orang kadang aneh, sebagian lagi beranggapan bahwa ini unik.

Saya pernah ditanya oleh beberapa orang seperti, "Kamu mempunyai hobi apa?".
Saya terdiam, tidak bisa menjawab apapun, namun otak terus bekerja memikirkan sesuatu yang saya sangat sukai. Dan, saya menjawab "saya suka menggambar, menulis dan membaca buku". Terdengar seperti jawaban anak sd bukan? Tapi yaaa nyatanya begitu.

Lalu, saya diberi pertanyaan lagi, "tempat favoritmu membaca buku dimana?".

Tentu dengan santai saya menjawab "Di dalam kereta, saat perjalanan KAI dari Medan ke Kisaran yang menempuh waktu kurang lebih 4 jam".

Semua terdiam hening, terheran - heran, mungkin sedikit lelucon bagi mereka.

Karena menurut saya tentu sangat membosankan kalau di perjalanan cuma hanya diam aja, atau sekedar mendengarkan musik, walau beberapa orang pasti ada yang mengajak untuk berkomunikasi.

Tak henti disitu, sabar, ada lagi. Maaf kalau tulisan ini terkesan seperti curhat. Tapi percayalah, jika kamu membaca tulisan ini hingga akhir, akan ada kesimpulan yang akan kamu ambil.

By Pinterest

Membaca disaat perjalanan menaiki Kereta Api ini kurang lebih sudah hampir empat tahun saya jalani.

Biar saya jelaskan, seperti yang kita tahu. Bahwa penumpang KAI memiliki beragam sikap dan watak. Tentu, berbeda kota bisa jadi berbeda pula bahasa daerahnya. Ada yang diam, ada yang mendengarkan musik menggunakan earphone dengan volume yang sekuat - kuatnya, ada yang ramah lalu mengajak ngobrol mengenai hal apapun dengan memeperkenalkan diri atau sekedar berbasa basi saja, ada yang merasa bahwa Kereta Api itu adalah miliknya hingga melakukan apapun sesuka hatinya, pokoknya beragam manusia akan kau temukan saat menaikinya, hehe.

Saya selalu mengambil posisi duduk tepat disamping jendela, selain bisa bersandar, juga pasti mendapatkan cahaya lebih terang. Setiap perjalanan saya selalu menyiapkan beberapa buku, minimal satu maksimal tiga buku. Yaa biar bisa ganti - ganti buku saat baca. Tak lupa juga memasang earphone dengan volume sekuat - kuatnya. Membaca buku sambil mendengarkan musik itu juga hal yang nyaman bagi saya.

Kalau disaat perjalanan tidak membawa buku, itu benar - benar sangat tidak nyaman, seperti ada yang kurang, seperti ada yang hilang. Dan adanya rasa penyesalan kepada diri sendiri.

Selama empat tahun, saya masih menyimpan memori - memori baik tentang beberapa orang baik. Iya, ada beberapa orang, kurang lebih sekitar tiga waktu yang berbeda saya temui saat diperjalanan menaiki kereta. Orang - orang tersebut benar - benar tidak mengenal tempat untuk  berbagi ilmu. Padahal bisa dikatakan bahwa, kita kenal pun tidak. Tapi adanya komunikasi kita jadi mengenal.

Disaat diperjalanan mereka menatapku penuh dengan keheranan, tentu bukan waktu yang bersamaan yaa, beberapa orang ini tentu di waktu yang berbeda.

By Pinterest

Orang pertama, dia seorang bapak - bapak dan seorang ibu, pasutri. Yang aku ingat mereka berdua adalah seorang dosen.

Saya ingat, mereka ada bilang begini "Assalamualaikum, adik lagi membaca buku apa? Mau ujian ya? Wahh buku media komunikasi, dari jurusan apa? Kampus mana?" Dan pertanyaan lainnya dengan penuh keheranan seperti "kenapa membaca bukunya di kereta api? Memang selalu begitu?".

Pada saat itu, saya sedang menggenggam buku media komunikasi. Yang saya ingat, ibu dan bapak tersebut memberikan saya sedikit ilmu dan menambah wawasan, salah satunya termasuk manajemen waktu.

Kami banyak sekali berdiskusi, hingga akhirnya saya hanya membaca selembar saja dari buku tersebut. Tentu wejangan yang mereka beri itu menambah ilmi baru. Disini adalah kali pertama saya bertemu dengan orang baik.

Kalau tidak salah sekitar tahun 2016 saya bertemu dengan mereka.

Orang kedua, Dia seorang laki -  laki, untuk usia mungkin sekitar 27 - 31, mungkin saja, aku tak menanyakan hal itu. Dia orang yang sangat ramah. Saat itu katanya dia sedang mendapatkan tugas di daerah Tanjung Balai Asahan, dengan tujuan kereta api Medan sama sepertiku. Dia cukup terheran. Katanya seumur hidupnya dia menaiki Kereta baru kali ini dia temui orang yang suka membaca buku tapi dikereta, dia juga bertanya dengan aneh "Baca buku apa?" "Kenapa suka membaca buku di kereta api?" "nyaman? bukannya kereta api kan jalan nya begini (maksudnya goyang goyang, kadang miring)". Kurang lebih pertanyaan orang lain selalu sama terlontar seperti itu.

Yang aku ingat, dia pernah memberi sebuah amalan seperti "Dek, kalau mau tulisan atau yang kita baca itu terus melekat dalam kepala kita coba amalkan beberapa asmaul husna"

Aku benar - benar terharu, karena merasa ada orang baik yang benar - benar membagi ilmu tapi tidak mengenal tempat. Sungguh, aku benar - benar bersyukur.

Tapi ada penyesalan tersendiri bagiku saat itu, aku tidak sempat mengucapkan terima kasih kepadanya. Disaat aku turun, dia sedang menolong orang lain untuk menurunkan barang.

Kurang lebih pertemuan ini sekitar pada tahun 2017 atau 2018 lalu

Ke-tiga, sebetulnya ada dua orang sih. kedua orang ini adalah orang terakhir yang aku jumpai disaat perjalanan, selanjutnya aku tak pernah bertemu orang baik seperti mereka lagi hingga sekarang. 

Kedua orang ini aku lupa mereka bekerja sebagai apa. Kalo dilihat dari raut wajah, usia mereka mungkin 30- 40 an gitu, maaf aku tak pandai menerka usia dari segi muka, yang sebetulnya ini tak perlu ku tulis. 

Mereka pernah memberi pertanyaan, seperti :
"Kamu kuliah? Kuliah dimana? Jurusan apa?", "Dek, gak sakit baca biku di kereta? Kan gelap gini, cahaya redup, minim cahaya", "Kok bisa?" Dengan wajah yang penuh dengan keheranan.

Dan yang aku ingat mereka sempat memberi ilmu, dan ini sedikit melenceng dalam benakku, karena ilmu tersebut belum pernah aku pelajari. Mereka berdua memberi bekal kepadaku. Dan bekal itu adalah sebuah ilmu yang sangat terpakai di dunia sekarang. Tak jauh mengenai media sosial dan pekerjaan yang sedang dicari - cari.

Terlihat saja wajah kedua orang ini seperti seram dan menakutkan. Tapi saat diskusi, Masyallah saya seperti dianggap sebagai adik sendiri.

Pertemuan dengan kedua orang ini kurang lebih tahun 2018.

By Pinterest

Saya suka membaca buku saat perjalanan kereta api bukan karena ingin meminta perhatian dari orang lain, tapi karena saya sendiri menemukan kenyamanan, dari pada diam tidak melakukan apa - apa sungguh itu sangat membosankan.

Hai orang - orang baik, Terima kasih kalian pernah memberi ilmu untuk saya, kalian sungguh tidak mengenal tempat untuk berbagi ilmu. Tentu ini menjadi pelajaran bagi saya, untuk meneruskan sikap baik kalian kepada orang lain. Iya tidak mengenal tempat untuk berbagi kebagian dan juga berbagi ilmu bermanfaat.

Saya tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang, sehat kah? Semoga selalu sehat dan selalu dalam perlindungan Allah.

Saya juga tidak tahu entah suatu hari kalian dapat membaca tulisan ini atau tidak, yang pasti saya membagikan tulisan ini dengan tujuan baik, untuk terus hidup, untuk terus bermanfaat bagi orang lain. Jika kalian dapat mengambil kesimpulan, sebetulnya tulisan ini sebagai alarm pengingat untuk kita terus berbagi tanpa mengenal dia siapa dan dimana.

Penulis : Pohon Ketela

Post a Comment for "Hobi Membaca Buku di Kereta, di Beri Bekal Ilmu Oleh Orang Lain"